milky way
Photo by Aperture Vintage / Unsplash

Terkadang berbagai macam rasa muncul. Takut, bahagia, sedih, cemas, cemburu, bangga, nyaman, puas dan lainnya. Silih berganti menghiasi keseharian manusia. Sensasi yang muncul karena buah pemikiran dan perasaan. Terkadang bercampur aduk dengan kepentingan, baik pribadi dan juga orang lain pada umumnya.

Menjadi manusia seutuhnya menurut saya pribadi merupakan perjalanan panjang. Terkadang kemudahan itu datang dari jalan yang tidak diduga-duga sebelumnya. Dalam perjalanan menjadi manusia seutuhnya juga mengalami situasi yang berbeda-beda, bahkan terkadang berliku. Kesulitan dan kemudahan datang silih berganti, ketika menghadapi kesulitan ada baiknya kita sadar betul bahwa setelah ini pasti muncul kemudahan. Begitupun sebaliknya, ketika kita berada dalam kemudahan jangan sampai terlena/lupa mengingatkan diri bahwa ini hanya sementara. Karena sifat ketidakpuasan akan sesuatu itu diperlukan, tentu dalam porsi yang wajar.

Ada cara-cara yang menurut saya pribadi sangat dibutuhkan dalam perjalanan menjadi manusia seutuhnya. Cara diri ini dalam menanggapi situasi yang datang dan berubah dengan sangat cepat misalnya, dibutuhkan sikap berprasangka baik. Yak, orang-orang kadang menyebutnya Positive Thinking. Jika sudah berprasangka baik, sikap pendukung lainnya adalah menjalaninya dengan Fun. Mudah sekali mengatakannya, tapi tidak mudah dalam praktiknya.

Photo by Markus Winkler / Unsplash

Sama seperti hal-hal sulit lainnya, kedua hal diatas bisa sangat menjadi mudah jika kita lakukan terus menerus. Dalam kondisi apapun, dalam situasi yang serumit apapun. Jika prasangka baik/Positive Thinking dan diiringi dengan Fun terus dilakukan, sesuatu yang menurut orang lain susah akan terasa mudah untuk dilalui dan dihadapi.

Tulisan ini akan menjadi pengingat yang baik untuk diri saya pribadi dimasa yang akan datang. Begitupun bagi orang-orang selain saya yang membacanya. Menjadi manusia yang seutuhnya merupakan sesuatu hal yang baik. Bukan hanya baik di hadapan manusia,  bahkan baik dihadapan semua makhluk. Berusaha baik dihadapan manusia dan semua makhluk bukanlah tujuan akhir. Lebih kepada salah satu dari banyak akibat yang kita timbulkan karena menjadi manusia yang seutuhnya.

Jika tujuan hidup ini hanya ingin dipandang baik oleh manusia dan makhluk lainnya, menurut saya terlalu sempit. Saya ambil contoh ketika kita menabung, jika menabung sudah menjadi kebiasaan yang kita jalankan dengan Positive Thinking dan Fun maka tidak akan terasa. Uang yang kita tabung tadi bisa gunakan disaat masa-masa sulit, misalnya membeli sesuatu yang kita inginkan bahkan hal-hal yang sudah kita idam-idamkan.

Photo by Grace Ho / Unsplash

Berbeda hasilnya jika tujuan menabung kita hanya untuk satu hal saja, misal untuk membeli sebuah Rumah. Jika tabungannya sudah cukup untuk membuat rumah,ya terbeli lah rumah itu. Dan ketika ingin membeli hal lain, kita harus menabung lagi dan diri kita akan merasa berat, dan merasa mulai dari Nol lagi. Hal itu lah yang menyebabkan rasa kurang bersyukur timbul, rasa selalu tidak cukup dan selalu ingin lebih dari orang lain yang pada akhirnya memicu kita untuk menggunakan jalan pintas/instant untuk menggapai hal tersebut.

I shot this in Monkey Forest Bali, Indonesia. I saw the monkey just sat and give it a good shoot, this came out from the camera.
Photo by Juan Rumimpunu / Unsplash

Alasan kenapa menjadi manusia seutuhnya bisa dicintai dan dipandang baik oleh semua makhluk karena, dengan menjadi manusia seutuhnya kita tidak sampai hati mencelakakan manusia apalagi mencelakai makhluk yang lain. Karena dengan menjadi manusia seutuhnya, kita tidak menggangu manusia dan  lainnya (hewan, tumbuhan bahkan langit dan bumi beserta isinya). Oleh karena itu, manusia dan makhluk yang lain nya akan merasa aman dan senang dengan keberadaan kita.

Saya akhiri tulisan ini dengan harapan, dipandang baik oleh manusia dan makhluk lainnya bukan tujuan akhir. Ada hal yang lebih tinggi lagi dari sekedar dipandang baik, yaitu dengan menjadi baik yang sesungguhnya. Maka dengan sendiri nya diri kita akan baik secara pandangan mata lahiriah maupun mata hati/batiniah.